Polemik Penetapan Hari Pers

Di Indonesia tentu saja banyak sekali peringatan dalam berbagai hal entah itu peringatan berbau sejarah atau peringatan hari lahir dari intitusi ataupun lembaga. Begitu juga dengan adanya pers. Pers merupakan salah satu lembaga yang ada di Indonesia yang berkecimpung di dunia media massa. Pers memiliki tujuan yang sangat mulia bagi masyarakat karena dengan adanya pers masyarakat dapat mengetahui informasi yang sedang terjadi saat ini.

Akan tetapi, dibalik itu semua muncul sebuah polemik yang datang beberapa tahun belakang ini yaitu tentang awal mulanya pers. Di indonesia sendiri, penetapan hari pers nasional setiap 9 februari yang ditandai dengan awal mulanya IPW berdiri. Memang sangat tidak signifikan dengan awal mulanya pers di Indonesia.

Sampai sekarang ini masalah penempatan awal mulanya pers di indonesia sendiri masih menjadi permasalahan. Sebab, pada tahun 2007 yang merupakan peringatan seabad pers nasional ini menimbulkan permasalahan. Awal mulanya karena semenjak tanggal 1 januari sampai 31 desember 2007 akan dilakukan penerbitan kilas balik perjalanan sejarah pers nasional yang dicetak oleh harian jurnal nasional di Jakarta.

Dalam pengantar yang ditulis oleh Taufik Rahzen, awal mulanya atau penanada dimana adanya pers dimulai dengan adanya medan priaji yang terbit pertama kali pada januari 1907 dengan tokoh terkenalnya yaitu Raden Mas Tirto Adhi Surjo. Memang pada dasarnya beliau sudah diberi penghargaan sebagai Bapak Pers Nasional dan disempurnakan gelarnya menjadi pahlawan nasional.

Akan tetapi, disini mulai muncul perdebatan dari berbagai pihak tentang awal mulanya pers, sehingga banyak pendapat dari berbagi tokoh tentang hal tersebut. Pada artikel yang ditulis oleh Nasrul Azwar sendiri banyak kutipan pendapat yang beliau ambil. Misalnya, seperti dari Suryadi beliau mengatakan bahwa, orang padang bukan kemarin sore baru membaca koran melainkan sudah satu setengah abad lalu. Maksud surat kabar tersebut ialah Bintang Timoer dengan bahasa melayu.

Lalu, pada artikel yang ditulis oleh dua orang tokoh lainnya yaitu suryadi dan Andreas harsono. Mereka berduapun berpendapat sama bahwa sebenarnya sebelum medan priaji terbit terdapat koran atau surat kabar lainnya yang sudah mulai muncul dahulu. Memang banyak alasan yang belum dapat dijelaskan kenapa medan priaji ditetapkan sebagai penanda adanya pers. Walaupun, seharusnya hal tersebut dapat dijelaskan dan diselesaikan dengan baik.

Menurut saya sendiri sebagai mahasiswa, sebenarnya saya tidak terlalu memasalahkan kenapa medan priaji ditetapkan sebagai penanda adanya pers. Sebenarnya, kalo menurut saya pasti banyak faktor yang menyebabkan medan priaji ditetapkan sebagai pers. Kalau menurut saya sendiri medan priaji sangat pantas dan layak ditetapkan sebagai awal mulanya pers nasional karena bahasa yang digunakannya ialah bahasa indonesia bukan melayu.

Sebenarnya ada satu kutipan yang sangat bagus yaitu “… orang-orang yang bersenjata atau mempunyai kekuatan akan takut dengan orang-orang jurnalis…” jadi menurut saya penetapan awal mulanya pers ditandai dengan nasionalisme, sehingga banyak pihak menganggap bahwa medan priaji merupakan awal mula penanda adanya pers.

Walaupun hal tersebut menimbulkan berbagi konflik karena di Indoensia sendiri arsip atau catetan tentang sejarah tidak tersusun rapih sehingga kita tidak tahu mana yang benar. Maka, alangkah lebih baik untuk tidak memasalahkan kembali tentang awal mula pers. Melainkan, tetap memajukan pers sesuai dengan tujuan awalnya,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s